03 MARET 2015 Admin BKP jateng

Pengembangan Cadangan  Pangan

Melalui LUMBUNG PANGAN MASYARAKAT

Di Kepulauan Karimunjawa

I.  Latar belakang Karimunjawa

Karimunjawa adalah kepulauan di Laut Jawa yang termasuk dalam Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Dengan luas daratan ±1.500 hektare dan perairan ± 110.000 hektare.Sejak tanggal 15 Maret 2001, Karimunjawa ditetapkan oleh pemerintah Jepara sebagai Taman Nasional. Karimunjawa adalah rumah bagi terumbu karang, hutan bakau, hutan pantai, serta hampir 400 spesies fauna laut, di antaranya 242 jenis ikan hias. Beberapa fauna langka yang berhabitat disini adalah elang laut dada putih, penyu sisik, dan penyu hijau,  tumbuhan yang menjadi ciri khas Taman Nasional Karimunjawa yaitu dewadaru (Crystocalyx macrophyla) yang terdapat pada hutan hujan dataran rendah. 

Geografis Karimunjawa terletak di Laut Utara, utara Jepara, Jawa Tengah. Kepulauan ini terdiri dari 27 pulau, 5 pulau berpenghuni yaitu: 1.Karimunjawa, 2.Kemujan, 3.Nyamuk, 4.Parang, 5.Genting.  Sedangkan  22 pulau tidak berpenghuni yaitu: 1 Menjangan Besar, 2. Menjangan Kecil, 3. Cemara Besar, 4.Cemara Kecil, 5.Geleyang, 6.Burung, 7. Bengkoang, 8. Kembar, 9.Katang, 10.Krakal Besar, 11.Krakal Kecil, 12.Sintok, 13.Mrican, 14.Tengah, 15.Pinggir, 16.Cilik, 17.Gundul, 18.Seruni, 19.Tambangan, 20.Cendekian, 21.Kumbang, 22.Mencawakan (atau Menyawakan).

Penduduk  Karimunjawa berpenduduk lebih dari 8.500 jiwa di lima pulau yang berpenghuni. Tiga suku utama yang menghuni Karimunjawa adalah suku Jawa, suku Bugis dan suku Madura  sebagian besar profesi mereka sebagai nelayan, membuat ikan kering, dan sebagian yang lain bertani,  serta memproduksi alat kebutuhan rumah tangga.

Pendidikan  Pendidikan di Karimunjawa sudah menjangkau sampai tingkat SMU. Selain memiliki sekitar 10 SD (lima di Karimun, tiga di Kemujan dan masing-masing satu di Parang dan Genting), Karimunjawa juga memiliki satu SMP, Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan SMK Negeri jurusan Budidaya Rumput Laut serta Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan yang merupakan sekolah gratis, serta satu Madrasah Aliyah di Kemujan.

Transportasi  Transportasi paling umum digunakan untuk ke Karimunjawa adalah kapal (kapal cepat) dari Semarang.  Dari Pelabuhan Kartini, Jepara terdapat Kapal cepat dan Kapal Ferry (Kapal Muria). Jalur udara dapat ditempuh dari Bandara Ahmad Yani, Semarang menuju Bandar Udara Dewa Daru di Pulau Kemujan dengan pesawat sewa jenis CASSA 212 yang disediakan oleh perusahaan penerbangan swasta.

Iklim dan Cuaca  Salah satu hal penting yang perlu diperhitungkan bila akan berkunjung ke Karimunjawa adalah gelombang laut.  Gelombang laut di Karimunjawa dipengaruhi oleh musim, menurut data hasil survei dan tanya jawab dari masyarakat setempat ada 3 musim yaitu sebagai berikut:

Musim Baratan

Musim baratan di perairan Jepara-Karimunjawa merupakan musim yang paling besar dan sering terjadi ombak serta gelombang, Musim baratan terjadi pada bulan Januari, Februari, Maret. Pada bulan tersebut kapal penyeberangan bisa menunda penyeberangannya hingga 2 minggu bahkan lebih, baik itu Kapal Muria maupun Kapal Cepat.

Musim Timur

Di musim timuran juga sama ombak cukup besar, namun perbedaannya adalah jika musim timur memiliki tingkat kepadatan dan ketinggian ombak tidak se-extrim musim barat. Musim timur biasanya terjadi mulai bulan Juli-September, kapal penyeberangan bisa menunda penyeberangannya hanya 1 atau 2 hari saja.

Musim peralihan

Berbeda dengan musim baratan dan timuran, di musim peralihan ini ombak dan gelombang tidak terlalu besar, bahkan jika di tanggal tertentu di musim peralihan, laut di Karimunjawa sangat tenang. Musim peralihan berada di bulan April-Juni dan Oktober-Desember.

II.  Tujuan

Mewujudkan Ketahanan Pangan di Kepulauan Karimunjawa melalui ketersediaan cadangan pangan dilumbung-lumbung pangan.

III. Sasaran

Sasaran kegiatan pengembangan cadangan pangan adalah penduduk miskin/kelompok nelayan di kepulauan karimunjawa

IV. Pelaksanaan

Dari latar belakang kepulauan Karimunjawa tersebut diatas kondisi ketahanan pangan apalagi kedaulatan pangan di wilayah tersebut sangat memprihatinkan. Matapencaharian penduduk yang sebagian besar nelayan  bisa melaut dalam setahun hanya 6 bulan yaitu  April-Juni dan Oktober-Desember, bahkan dengan perubahan iklim global kondisi cuaca semakin tidak menententu, sehingga kondisinya semakin memprihatinkan.  Kebutuhan Primer mereka yaitu Pangan (beras) pada Musim Barat dan Timur  bergantung pada bantuan pemerintah.  Pemerintah Kab Jepara memang telah mengalokasikan bantuan namun masih kecil hal tersebut karena  keterbatasan anggaran, demikian juga  Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui BADAN KETAHANAN PANGAN (BKP), setiap tahun membantu kebutuhan pangan (beras) untuk menghadapi musim barat/timur kepada masyarakat kepulauan Karimunjawa. Bantuan tersebut dikirimkan oleh BKP Jateng dalam 2 tahap yaitu: Tahap I pada bulan April/Mei untuk menghadapi  Musim Timur  (Juli-September) , Tahap II pada bulan Oktober/November untuk menghadapi  Musim Barat  (Januari-Maret).

Untuk itulah BKP Jateng pada Tahun 2011 membangun lumbung di Karimunjawa guna menampung cadangan pangan masyarakat  dengan kapasitas kurang lebih   50 ton 

Analisa Kebutuhan beras untuk 8.500 org dalam kurun 6 bulan

           
                       

Kebutuhan per kap/th

:

                   83,93

 kg

 =

  83.930

 gr

         

Kebutuhan per kap/hr

:

                229,95

 gr

               

Kebutuhan 8500 org/hr

:

    1.954.534,25

 gr

 =

    1.955

 kg

 =

  1,95

 ton

/ hari

 

Kebutuhan 8500 org/1 bln

:

                58.636

 kg

 =

          59

 ton

 /bulan

     

Kebutuhan 8500 org/6 bln

:

                      352

 ton

 / 6 bulan

           
                       
                       

UPAYA BADAN KETAHANAN PANGAN (BKP) JAWA TENGAH

Agar masyarakat tidak selalu dan terus menerus meminta bantuan kepada pemerintah, melalui BADAN KETAHANAN PANGAN (BKP) JAWA TENGAH berupaya MEMBANGUN Ketahanan Pangan menuju Kedaulatan Pangan di Karimunjawa dengan memberdayakan masyarakat Karimunjawa melalui berbagai kegiatan yaitu:

1. Tahun 2014  

a.  Pengembangan Ketela pohon Varietas “Mekarmanik”  untuk  cadangan pangan masyarakat, bantuan berupa :

  • 30.000 stek batang ketela mekarmanik
  • 300 kg Pupuk Urea Non Subsidi
  • 300 kg Pupuk KCL Non Subsidi
  • 30 liter Pupuk Cair plus
  • 3.000 kg  Pupuk Kandang

Dengan pengembangan umbi-umbian ini diharapkan masyarakat tidak bergantung pada pangan beras, produktivitas ketela mekarmanik ini cukup tinggi, di wilayah yang sesuai agroekosistemnya  bias mencapai 100 ton lebih per hektar.

b. Bantuan beras untuk pengisian lumbung 2 tahap :  10,35 ton dan 9,5 ton = 19,85  ton

2. Tahun 2013

a.  Pengembangan Lahan Pertanian untuk dan Pengolahan Pangan Masyarakat, bantuan berupa :

  • 2 unit Traktor Tangan
  • 1 unit Alat Penepung Bermesin
  • 1 unit Alat Perajang Bermesin
  • 1 unit Alat Peniris Bermesin

Diharapkan dengan alat  Traktor Tangan  ini masyarakat dapat mengolah lahan pertanian lebih luas, dan dengan alat penepung, perajang dan peniris masyarakat dapat mengolah pangan lokal baik dari hasil lahan maupun tangkapan laut.

b. . Bantuan beras untuk pengisian lumbung 2 tahap :  11 ton dan  10,3 ton = 21,3  ton

 

3. Tahun 2012

a.  Pengembangan Lahan Pertanian untuk dan Pengolahan Pangan Masyarakat, bantuan berupa :

  • 3 unit Traktor Tangan

b.  Bantuan beras untuk pengisian lumbung 2 tahap :  10 ton dan  10 ton = 20  ton

4. Tahun 2011

a.  Bantuan beras untuk pengisian lumbung 2 tahap :  10 ton dan  10 ton = 20  ton

5. Tahun 2010

  • Pembangunan Lumbung Pangan Masyarakat ukuran  6 x 10 m, kapasitas + 50 ton
  • Pengisian beras 20 ton

IV. PERMASALAHAN

  1. Jangkauan pembinaan ke masyarakat karimunjawa cukup sulit dengan kendala sarana transportasi khususnya angkutan laut yang sangat terbatas dan factor cuaca di musim Barat dan Timur.
  2. Semakin berkurangnya anggaran pemerintah provinsi Jawa Tengah yang dialokasikan untuk pembangunan ketahanan dan kedaulatan pangan bagi masyarakat karimunjawa.
  3. Belum banyak masyarakat Karimunjawa yang terampil dalam pengelolaan lahan pertanian dan  pengolahan pangan hasil bumi maupun hasil maritim.

V.  UPAYA PEMECAHAN MASALAH

1. Melalui Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta agar dapat mengupayakan /menambah sarana transportasi laut       untuk angkutan barang dan penumpang. 

2. Agar Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten Jepara lebih meningkatkan alokasi anggaran uUntuk pembangunan ketahanan pangan di kepulauan karimunjawa.

3. Mengalokasikan kegiatan peningkatan ketrampilan pengolahan pangan bagi petani/nelayan dan diberikan stimulant     alat pengolahan pangan yang diperlukan.

VI.  HARAPAN KEDEPAN

Untuk mewujudkan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan di kepulauan Karimunjawa kedepan perlu :

  1. Masyarakat petani / nelayan lebih banyak diberikan pelatihan ketrampilan pengolahan lahan pertanian dan pengolahan hasil pertanian.
  2. Alat pengolahan  lahan pertanian (mekanisasi) sangat diperlukan dalam upaya memberdayakan lahan-lahan tidur.
  3. Teknologi penghasil energy listrik seperti Solar cell agar lebih banyak dikembangkan, sehingga kebutuhan energy listrik tidak tergantung pada Generator.