15 09:24:57 APRIL 2015 Admin Website BKP jateng

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan wawasan masyarakat, khususnya Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani), untuk ikut serta dalam mendukung pembangunan ketahanan pangan wilayah, maka Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah baru-baru ini tanggal 9 – 10 April 2015 telah menyelenggarakan Pelatihan Pendidikan Kemasyarakatan yaitu ”Pelatihan Perencanaan Partisipatif bagi Gapoktan LDPM (Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat)” Tahap Mandiri dan Tahap Pasca Mandiri. Dengan perencanaan yang pasti diharapkan Gapoktan LDPM (Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat) sebagai penggerak masyarakat, dapat berperan serta secara aktif, baik dalam hal pengumpulan informasi potensi-potensi sumber daya wilayah yang ada, penentuan tujuan program pembangunan ketahanan pangan wilayah, strategi yang akan dilakukan, serta mengestimasi biaya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program tersebut dengan perbaikan dalam sistem pembenihan (penggunaan benih bersertifikat), pengelolaan lahan (persiapan lahan, pemupukan dan pengendalaian OPT), pendampingan, penanganan pasca panen dan pemasaran.

Jawa Tengah merupakan wilayah sentra produksi pertanian yang sangat luas, khususnya komoditas padi dan jagung, dengan topografinya yang beragam, sehingga Jawa Tengah merupakan peyangga pangan nasional (+ 14% kontribusi Nasional).

Sampai dengan saat ini beberapa komoditas pangan berdasarkan data ASEM 2014 mengalami surplus. Beras sebesar 2,5 juta ton, jagung sebesar 2,6 juta ton, ubi kayu sebesar 3,6 juta ton, ubi jalar 124 ribu ton, daging 198 ribu ton, susu 8 ribu ton dan ikan 291 ribu ton.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan para petani yang tergabung ke dalam Kelompok Tani (Poktan) sebanyak 38.334 kelompok dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sebanyak 7.420 kelompok dari 573 kecamatan dan 8.578 desa/kelurahan yang ada di Jawa Tengah (sumber data : Rekapitulasi Data Base Kelembagaan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha, Bakorluh Prov. Jateng 2010 dan BPS).

Dalam upaya pemberdayaan kelembagaan petani, Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah telah membina kelompok–kelompok, antara lain : kelompok wanita dalam pengembangan pekarangan, kelompok lumbung pangan, kelompok afinitas desa mandiri pangan. Selain itu juga mengembangkan Gapoktan melalui program Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) yang telah dilaksanakan sejak tahun 2009, di daerah sentra produksi padi/beras dan atau jagung. Tujuan LDPM adalah memberdayakan Gapoktan agar mampu mengembangkan unit usaha distribusi pangan dan unit pengelola cadangan pangan. Program LDPM diwujudkan melalui penguatan modal usaha, pelatihan dan pendampingan kepada Gapoktan. Bimbingan diberikan oleh Pendamping, Tim Teknis Kabupaten/Kota dan Tim Pembina Provinsi.

Program LDPM ini dilaksanakan secara bertahap selama 3 tahun mulai dari tahap penumbuhan, tahap pengembangan dan tahap mandiri/pasca mandiri. Setelah tiga tahap selama 3 tahun tersebut telah terlewati, Pemerintah pusat menyerahkan pembinaan LDPM kepada Pemerintah Daerah dengan anggaran dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah).

Data cadangan pangan di Jawa Tengah yang ada adalah cadangan pangan Pemerintah yang dikuasai Bulog sebesar 166.240 ton setara beras (ketahanan stok 4,41 bulan). Cadangan pangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang berada di Balai Pengembangan Cadangan Pangan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah sebesar 158,26 ton GKG, sedangkan estimasi stok cadangan pangan (beras) di masyarakat pada bulan Desember 2014 sebesar 998.892 ton (cukup untuk 5 bulan ke depan/sampai bulan April 2015).

Pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Pertani dan menjadi bagian dari Exit Strategi terhadap pemberdayaan Gapoktan LDPM. Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah memberdayakan Gapoktan LDPM melalui penguatan kelembagaan petani untuk meningkatkan posisi tawar Gapoktan dalam mengakses bentuk permodalan, asuransi sampai ke pemasarannya.