16 13:53:09 SEPTEMBER 2015 Jona Admin BKP Jateng

Purbalingga 09 September 2015Ketersediaan pangan yang cukup tidak menjamin perwujudan ketahanan pangan pada tingkat wilayah (regional), rumah tangga dan individu. Berkaitan dengan hal tersebut, penganekaragaman pangan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan menuju kemandirian dan kedaulatan pangan. Dari segi fisiologis juga dikatakan, bahwa untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif manusia memerlukan lebih dari 40 jenis zat gizi yang terdapat pada berbagai jenis makanan, sebab tidak ada satupun jenis pangan yang lengkap zat gizinya selain air susu ibu (ASI). Penganekaragaman konsumsi pangan merupakan upaya untuk memantapkan atau membudayakan pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman dalam jumlah dan komposisi yang cukup, guna memenuhi kebutuhan gizi untuk mendukung hidup sehat, aktif dan produktif

Salah satu strategi dasar untuk mewujudkan perbaikan konsumsi pangan masyarakat agar beragam, bergizi seimbang dan aman adalah melalui internalisasi yang dapat dilakukan melalui pendidikan formal dan informal serta penyuluhan. Proses ini merupakan upaya untuk merubah pola pikir  tentang konsumsi pangan agar lebih banyak mengkonsumsi sumber protein (hewani dan nabati), sumber vitamin-mineral (sayuran dan buah), serta aneka sumber karbohidrat selain beras dan terigu. Proses internalisasi ini tentu saja membutuhkan waktu yang cukup lama, dan tentu akan lebih efektif jika dilakukan sejak usia dini agar ketika dewasa pola konsumsi pangannya menjadi lebih beragam, bergizi seimbang dan aman. Salah satu sasaran penduduk berusia dini yang potensial untuk proses internalisasi penganekaragaman pangan adalah para siswa sekolah dasar (SD).

Berdasar hal tersebut, Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah melaksanakan kegiatan Pengenalan Konsumsi Pangan Beragam Bergizi Seimbang Dan Aman (B2SA). Pada tahun 2015, dilaksanakan di 10 sekolah Dasar pada10 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Cilacap, Purworejo, Kendal, Tegal, Brebes, Sragen, Karanganyar, Rembang, Purbalingga dan Kota Magelang. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Agustus s.d September 2015. Pada kegiatan pengenalan konsumsi pangan B2SA selain Sosialisasi kepa orang tua murid juga dilakukan pemberian makan B2SA selama 10 kali dan alat peraga berupa tanaman sayur, buah dan benih ikan lele serta model aquaponik dan hidroponik untuk menarik minat siswa SD dalam membudidayakan tanaman dan mengubah paradigma “kotor dan berlumpur” ketika melakukan budidaya pertanian. Melalui siswa SD ini kita dapat memberikan informasi dasar tentang pentingnya penganekaragaman pangan terutama dalam mengkonsumsi sayuran baik melalui teori maupun praktek yang dapat dilaksanakan secara langsung di lingkungan sekolah Oleh karena itu, pengenalan konsumsi pangan B2SA dan pemberian stimulant pengembangan kebun sekolah sebagai sarana untuk mengenalkan dan mengajarkan para siswa tentang penganekaragaman pangan serta wahana pembelajaran tentang budidaya tanaman yang dapat dikonsumsi khususnya sayuran, buah dan ikan. Kontributor Subbid Konsumsi