16 OKTOBER 2015 Jona Admin Website

TEMPE WARISAN BUDAYA TAK BENDA ASAL INDONESIA

Tempe, siapa yang tidak kenal dengan makanan ini? Produk fermentasi kacang kedelai oleh kapang Rhizopusoligosporus, dibuat dengan proses yang unik sejak beberapa abad lalu oleh nenek moyang Indonesia.  Bukti sejarah menunjukkan bahwa tempe pertama kali dibuat oleh masyarakat Klaten, Jawa Tengah dan sudah biasa dikonsumsi sejak tahun 1700-an.

“Workshop dan Sosialisasi Tempe sebagai Warisan Budaya Tak Benda Asal Indonesia” diselengarakan pada hari selasa, 13 Oktober 2015 bertempat di kantor Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah. Dalam laporannya, Kepala BKP Provinsi Jawa Tengah menyampaikan bahwa Workshop Tempe ini terlaksana atas kerjasama antara PERGIZI ( Perhimpunan Pakar Gizi) Pangan Indonesia dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Persepsi tempe sebagai pangan kelas sosial ekonomi rendah perlu diubah menjadi makanan tradisional yang  membanggakan. Bagi masyarakat Indonesia, tempe bukan sekedar makanan, tetapi memiliki nilai budaya, sejarah dan ekonomi bangsa. Karena keunikannya, tempe layak untuk menjadi simbol budaya Indonesia, perlu ada upaya untuk mencantumkan tempe dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage of Humanity-ICHH) ke UNESCO, lanjutnya.

Apresiasi dan dukungan dari Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah disampaikan dalam acara tersebut. Dalam sambutannya Ganjar mengatakan bahwa berbicara tempe seolah-olah adalah mencari sesuatu yang hilang, ada sejarah panjang tentang tempe dan menjadi heritage bangsa. Akan segera dibangun monumen tempe di Klaten dan ke depan kita mendorong pembangunan museum tempe yang memberikan informasi tentang berbagai hal soal tempe. Bicara tempe, pelaku usaha sebagian besar adalah UMKM, sehingga perlu teknologi pengelolaan tempe dan perlu kepedulian soal ini, tegasnya.

Usai menyampaikan sambutannya, Gubernur Jawa Tengah menandatangani surat dukungan Tempe Sebagai Warisan Warisan Budaya Tak Benda, didampingi oleh Kepala BKP Provinsi Jawa Tengah dan Ketua PERGIZI Indonesia.

Dikalangan masyarakat awam, tempe masih dianggap sebagai pangan kelas sosial ekonomi rendah. Padahal ratusan penelitian membuktikan tempe  sebagai salah satu pangan bergizi dan bagian dari diet sehat. Tempe dapat digunakan untuk mengatasi masalah kekurangan gizi,  tempe terbukti dapat mencegah dan mengatasi diare, potensi untuk diet mencegah dan mengobati penyakit seperti hiperkolesterol dan hiperglikemia. Berdasarkan hal tersebut, perlu diciptakan persepsi yang lebih baik tentang tempe. Bahkan di berbagai negara, tempe justru mendapat perhatian besar, khususnya terhadap kandungan gizi dan manfaat kesehatan tempe yang unik. Kita bangsa Indonesia tentu tidak rela bila kelak ada bangsa yang meng-klaim bahwa tempe sebagai pangan tradisional negara lain. Demikian diungkap Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof Dr Hardinsyah MS.

UNESCO telah memberikan pengakuan terhadap Kimchi dari Korea dan Batik dari Indonesia sebagai“  Intangible Cultural Heritage of Humanity (ICHH)”. Terinspirasi dengan hal ini, tempe memiliki potensi yang besar untuk diajukan sebagai  “Intangible Cultural Heritage of Humanity” melalui pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemendikbud. Berdasarkan pertimbangan tersebut, PERGIZI PANGAN Indonesia bersama dengan Forum Tempe Indonesia dan mitra berinsiatif untuk memulai proses pengajuan Tempe sebagai  Intangible Cultural Heritage of Humanity lanjutnya.

Menurut Prof Made Astawan MS, Sekjen PERGIZI PANGAN Indonesia yang juga Ketua Forum Tempe Indonesia, kegiatan ini bertujuan untuk 1)  Merumuskan alasan diajukanya tempe sebagai   Intangible Cultural Heritage Of Humanity; 2) Mendapatkan data dan informasi tentang sejarah tempe dan kebudayaannya; 3) Merumuskan strategi untuk mendapatkan pemahaman yang sama dan dukungan dari stakeholder tingkat nasional untuk pengajuan tempe sebagai   Intangible Cultural Heritage Of Humanity ke UNESCO.

Proses pengajuan Tempe sebagai ICHH membutuhkan proses dan jangka waktu yang panjang. Sehubungan dengan itu, PERGIZI PANGAN Indonesia membuat tahapan pengajuan/milstone sebagai berikut 1) tahun 2014 merupakan tahap inisiasi; 2) Tahun 2015 menjadi tahap dokumen awal; 3) Tahun 2016 merupakan tahap dokumen final disampaikan kepada Kemendikbud; 4) Tahun 2017 merupakan tahap pengajuan ke UNESCO oleh Kemendikbud; danTahun 2018 diharapkan diterima oleh UNESCO.