Kegiatan Promosi Pangan Lokal Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah
Kebijakan Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan sebagaimana tertuang dalam Perpres No.22, ditindaklanjuti dengan Pergub No.41 tahun 2009 yang disahkan untuk peningkatan konsumsi Pangan yang Beragam, Bergizi Seimbang dan aman (B2SA) melalui peningkatan teknologi pengolahan pangan dan pemanfaatan pekarangan, hal ini perlu adanya dukungan pihak terkait dalam upaya untuk meningkatkan citra, rasa, dan inovasi pangan berbasis pangan lokal.
Penganekaragaman Konsumsi Pangan diselenggarakan untuk memaksimalkan pemanfaatan keragaman sumberdaya pangan diantaranya tepung-tepungan non terigu (potensi tepung-tepung di Jawa Tengah sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal antara lain tepung ganyong, tepung garut, tepung sukun, tepung mocaf, tepung pisang dll ). Dengan memanfaatkan potensi tepung-tepungan untuk pangan olahan, maka akan dapat mengurangi ketergantungan pada tepung terigu yang selama ini kita masih mengandalkan import serta dengan pengolahan pangan yang beragam akan dapat mengurangi ketergantungan terhadap salah satu bahan pangan pokok yaitu beras.
Upaya mengolah pangan lokal menjadi tepung-tepungan sudah dilaksanakan di berbagai daerah. Dan konsumen juga sudah mulai membutuhkan. Hanya kadang pada waktu dibutuhkan konsumen, tepung-tepungan tadi tidak tersedia. Tehnologi Tepat Guna yang mudah diaplikasikan oleh kelompok sangat dibutuhkan, untuk itu perlu adanya kerjasama yang baik antar masyarakat, pemerintah dan perguruan tinggi agar supaya kelompok mampu memberdayakan potensi yang ada.
Sebagai implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 22 tahun 2009 serta Pergub No. 41 tahun 2009, Dinas Ketahanan Pangan Prov. Jateng telah melakukan berbagai kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan salah satunya adalah mempromosikan produk-produk pangan lokal sesuai potensi wilayah. Promosi pangan lokal juga sudah dilaksanakan melalui berbagai kegiatan seperti Festival, Gerakan, Kampanye, Lomba, Pameran dll. Sekarang sudah banyak bermunculan Kelompok Wanita Tani (KWT) yang menghasilkan produk olahan pangan berbasis pangan lokal dan diolah, dikemas secara menarik sehingga sukses meraih pasar dan dikenal oleh masyarakat luas. Jika kita berprestasi dan tekun tentu tak susah mencari pasar, tapi pasar yang mencari kita.
Kini tidak terlalu sulit menemukan tepung mocaf, serta tepung lokal yang lain, beberapa KWT cukup cerdas memanfaatkan peluang dengan mengolahnya menjadi berbagai produk seperti mie instan, kue kering dan aneka snack. Seperti beberapa Kelompok Wanita Tani (KWT) Pengolah Pangan Lokal yang mengikuti kegiatan pertemuan dalam rangka Promosi Pangan Lokal di Ruang Sidang Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah tanggal 24 April 2019, diantaranya:
- KWT Mandiri Kab Purbalingga, dengan olahan : Tepung Mocaf, Tiwul Instans , Wingko singkong, Kue Ketapang Mocaf.
- KWT Larasati Kab. Rembang, dengan olahan : Cryspy Jantung pisang, Krispy pepaya.
- KWT Mulur Kab. Sukoharjo, dengan olahan : Kana Nuget dari tepung tapioka.
- KWT Sekar Tanjung Kab. Blora, dengan olahan : Aneka tepung (pisang, kerut, ubi, talas, kulit pisang) dan olahannya.
- KWT Dewi Sri III Kab. Banjarnegara, dengan olahan : Krupuk salak, sambel salak, Criping Pisang.
- KWT Windu Mandiri Kab. Banyumas, dengan olahan : Dodol, jahe, Dododl pepaya nanas, dodol labu kuning, kripik pisang taro.
- KWT Pelangi Kab. Wonogiri, dengan olahan : Dodol Buah naga, Stik buah naga, Bolu Buah Naga, Bolu Waluh, Kripik talas.
- KWT Nusa Indah 3 Kota Magelang, dengan olahan : Aneka olahan lidah Buaya.
- KWT APL Mapan Kota Salatiga, dengan olahan : Tortila, Maizena, aneka kripik sayur.
- KWT Arum sari Kab. Semarang : Sirup jahe alang-alang, gula aren.
- KWT Karang Jongkeng Kab Tegal, dengan olahan : Keripik Pisang anekarasa (coklat, balado, jagung bakar, original).
- KWT SPR Linda Kab. Grobogan, dengan olahan : Kentuky Ikan Wader, Cryspy Pepaya.
- KWT Lestari kab. Batang : Aneka kripik (pegagan, Kenikir, daun singkong,), Eggroll Mocaf.
- KWT Mekar Sari Kota Semarang, dengan olahan : Daun katuk (Datuk) Cookies.
- KWT Kajar Semangat Kab. Kudus, dengan olahan : Kripik Kulit Pisang, Criping Pisang Byar, Nugget Pisang.
- KWT Wanita Makaryo Kab. Pati, dengan olahan : Aneka kripik, Widaran dari Tapioka, Stik sayur.
- KWT Teratai Kota Tegal, dengan olahan : Geplak Gurih, Kripik selada.
- KWT Mawar Tani Kab Brebes, dengan olahan : Rengginang, Bawang Goreng.
- KWT Trubus Kab. Cilacap, dengan olahan : Nasi jagung instan, Kripik pegagan.
Dari olahan-olahan tersebut diatas, ternyata ada beberapa Kelompok Wanita Tani (KWT) yang sudah memahami cara memproduksi dan memasarkan produk olahannya, salah satu diantaranya adalah dengan Kemasan yang sesuai standart yang disyaratkan. Namun demikian masih banyak juga produk-produk olahan pangan lokal yang masih dikemas secara sederhana, sehingga kurang menarik konsumen dan kurang meningkatkan nilai ekonomis dari produk tersebut. Untuk mengatasi kendala tersebut maka Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, dalam upaya Mempromosi Pangan Lokal yang diproduksi oleh Beberapa KWT diseluruh Jawa Tengah, telah melatih sebagian KWT Pengolah Pangan Lokal perwakilan dari 35 kab/Kota tentang arti pentingnya Kemasan. Kemasan ini menjadi salah satu hal yang sangat dalam memproduksi dan memasarkan olahan pangan termasuk olahan pangan lokal.
Selain upaya untuk meningkatkan daya jual dan menaikkan nilai ekonomi dari pangan lokal, pangan Lokal perlu digemakan dan dan disosialisasikan secara terus menerus. Upaya untuk membumikan dan menjadikan pangan lokal yang superior (tidak menjadi inferior lagi), hal ini dapat dimulai dengan meningkatkan komitmen untuk mencintai dan mengkonsumsi pangan lokal yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, serta komunitas-konumitas lainnya. Yang pada akhirnya nantinya diharapkan masyarakat di Jawa Tengah terbiasa untuk mengkonsumsi pangan lokal dalam menu sehari-hari.



